PENGAMATAN BUNG JEFRI TUWUL KELANGKAAN BBM DI INDONESIA TIMUR: JANGAN BIARKAN RAKYAT MENANGGUNG BEBAN

Jakarta, 16 Oktober 2026

Oleh: Bung Jefri Tuwul
Ketua Umum Yayasan Cahaya Timur Nusantara Emas

Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar dan Pertalite, merupakan persoalan serius yang perlu mendapat perhatian pemerintah. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan, tetapi juga oleh nelayan, sopir angkutan, pelaku UMKM, pedagang, dan masyarakat berpenghasilan rendah.

Dalam pengamatan saya terhadap persoalan energi di Indonesia Timur, wilayah kepulauan seperti Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi perlu mendapat perhatian khusus. Karakter geografis, ketergantungan pada transportasi laut, serta jarak antarpulau dapat meningkatkan tantangan distribusi dan biaya logistik.

Penyebutan wilayah tersebut merupakan fokus perhatian terhadap kerentanan distribusi energi, bukan pernyataan bahwa seluruh provinsi mengalami kelangkaan dengan tingkat yang sama. Kondisi aktual setiap daerah perlu dikonfirmasi melalui data stok, laporan SPBU, dan informasi resmi pemerintah serta Pertamina.

PEMERINTAH HARUS BERTINDAK TERUKUR

Saya mendesak pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Pertamina mengambil langkah nyata:

1. Audit stok dan distribusi dalam 7 hari sejak langkah penanganan ditetapkan, kemudian umumkan penyebab gangguan dan wilayah yang terdampak berdasarkan data.
2. Pulihkan pasokan di titik terdampak dengan target waktu yang jelas, termasuk jadwal distribusi ke pulau-pulau kecil dan daerah terpencil.
3. Publikasikan laporan mingguan mengenai stok, penyaluran, antrean, pengaduan masyarakat, dan perkembangan pemulihan pasokan.
4. Tindak tegas penimbunan dan penyimpangan berdasarkan bukti serta pastikan BBM bersubsidi disalurkan kepada masyarakat yang berhak.
5. Perkuat cadangan dan infrastruktur energi Indonesia Timur, termasuk fasilitas penyimpanan, transportasi antarpulau, serta sistem peringatan dini terhadap potensi gangguan pasokan.

Kelangkaan BBM juga berpotensi meningkatkan ongkos transportasi dan harga kebutuhan pokok. Karena itu, pemerintah perlu memantau harga pangan dan biaya angkutan di wilayah terdampak serta mengambil langkah korektif apabila ditemukan kenaikan yang berkaitan dengan gangguan pasokan energi.

Mengenai transisi menuju kendaraan listrik dan energi terbarukan, saya mendukung pengembangan energi alternatif yang terjangkau dan realistis. Namun, dugaan bahwa kelangkaan BBM sengaja diciptakan untuk mendorong masyarakat beralih ke kendaraan listrik tidak boleh dinyatakan sebagai fakta tanpa bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah wajib menjawab keresahan publik melalui transparansi dan evaluasi yang objektif.

Pesan saya jelas: masyarakat tidak boleh terus menjadi pihak yang menanggung kerugian akibat lemahnya antisipasi dan gangguan distribusi energi.

Indonesia Timur membutuhkan kebijakan energi yang adil, kepastian pasokan, pengawasan yang tegas, dan keberpihakan nyata kepada rakyat.

“Jangan sampai rakyat harus memilih antara membeli BBM untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Energi harus tersedia, terjangkau, dan berpihak kepada masyarakat.”

Bung Jefri Tuwul
Ketua Umum Yayasan Cahaya Timur Nusantara Emas